
JOGJA - Sri Sultan Hamengku Buwono X akhirnya memberikan jawaban gamblang soal kesediaannya menjadi calon presiden 2009. Raja Keraton Jogjakarta itu menyampaikan kesiapannya tersebut di hadapan ratusan ribu warga yang mengikuti acara Pisowanan Agung di Alun-Alun Utara Keraton Jogjakarta kemarin.
”Dengan mohon petunjuk kepada Tuhan Yang Mahaesa dan dengan niat tulus memenuhi panggilan pada ibu pertiwi, dengan ini saya menyatakan siap maju menjadi presiden 2009,” ucap Sri Sultan sambil membacakan teks yang ditulis sendiri dalam selembar kertas berkop lambang Keraton Jogjakarta.
Kesiapan Sri Sultan menjadi calon presiden itu disampaikan secara singkat. Tak lebih dari tiga menit lamanya. Dia sempat mengulang dua kali kesiapannya meraih kursi RI 1 itu sebelum ditutup dengan lantunan lagu Padamu Negeri.
Di dampingi istrinya, GKR Hemas, kelima putrinya, dan menantu plus Sukardi Rinakit, Franky Sihalatua, dan Ketua Merti Nusantara Meth Kusumohadi, Sri Sultan lantas menggelar keterangan pers di bangsal pagelaran.Dalam penjelasannya, Sri Sultan mengakui, kesiapannya menjadi capres itu akan membawa beberapa konsekuensi bagi dirinya. Termasuk kedudukannya sebagai gubernur DIJ.
Dia menyatakan kesiapannya melepas jabatan gubernur bila UU Pilpres mengharuskan dirinya menempuh langkah itu. ”Saya akan pertimbangkan untuk melakukan itu,” tegasnya.
Meski siap menjadi capres, Sri Sultan belum mau terbuka akan menggunakan kendaraan politik partai mana. Dia beralasan, kondisi sekarang masih dinamis dan kelak setelah pemilu legislatif akan terjadi kristalisasi parpol. Dia juga mengisyaratkan bahwa untuk menjadi capres tak harus lewat partainya, Partai Golkar.
Gubernur DIJ itu lantas mencontohkan, sukses Jusuf Kalla terpilih sebagai Wapres berpasangan dengan SBY bukan dicalonkan partai beringin. ”Untuk cawapres, saya belum memikirkan,” kilahnya.
Soal motivasinya maju, Sri Sultan menyatakan bahwa dirinya sudah tidak tahan melihat penderitaan rakyat. Sebagai sultan, dia ingin menjadi agen perubahan. Menurut Sri Sultan, selama sepuluh tahun reformasi belum terjadi perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.
Kepada rakyat DIJ, Sri Sultan mengingatkan bahwa dirinya bukan lagi Wong Agung sebagaimana para leluhurnya raja-raja Mataram yang berkuasa 100 tahun silam. Dia mengaku dirinya adalah seorang demokrat. Karena itu, raja yang semasa muda bernama BRM Herdjuno Darpito itu mendukung demokratisasi.
:: by: www.jawapos.co.id ::